Saturday, 22 November 2014

Kumala

tawa seruling safir mendayu diantara rintihan ranting ranting patah. menyeruak dan teriak dalam gempita nuansa tanpa suara. melolong sayu menekuri duri luka yang menancak pedih. ah, engkau terlalu berlebihan Kumala. senja ini indah, sangat indah. lihatlah cakrawala jingga yang melukiskan rona warna. lihatlah bias bias anggun berganti, menapaki lekuk lekuk ungu semburat. itu benar benar indah, mesti hanya sekejap.

Kumala tersenyum dalam kidung lembayung merekah. seruling safir melengking terpesona dengan keteguhan senja. iapun bergeming, mengikuti batas cakrawala yang tersenyum menyambut petang. merubah suasana kelam temaram menjadi rekah bahagia sempurna. ranting ranting patah itupun tersenyum tanpa luka.
ah, engkau Kumala.

magelang, 8 Maret 12

Load comments