Pagi ini, embun di ruam-ruam pucuk cemara yang mulai tanggalkan
gigilnya, menekuri ranum bersama semburat mentari yang mulai merekah.
Hangat membalut bening yang mulai menguap dalam asap, menyatu dalam
udara. Kembali dalam siklus yang berlanjut terus menerus. Hingga suatu
masa, ketika sang Maha Bijaksana menghentikan alur mayapada. Menghiasi
semesta dalam temaram yang berdiri angkuh bak tebing-tebing perkasa.
Luruh dalam rapuh, harapkan kebaikan yang akan menolong setiap insan.
Dalam setiap benih yang disemai, dalam setiap perbuatan yang dilakukan.
Aku masih bersahabat dengan embun, meski pagi ini ia pulang lebih cepat
dari biasanya. Kupandangi lekuk molek tubuh Tidar, selalu mempesona dan
membuatku kian jatuh hati padanya. Tinggi dahan pinus dan rimbunnya
petak salak, selalu membuatku betah untuk bermanja kepadanya. Ah, Tidar
memang begitu. Selalu begitu.
Aku duduk di bawah pohon
pinus, menyaksikan lalu lalang orang yang mulai menapaki tubuh
kekasihku. Aku tahu, mereka mempunyai niat yang baik pergi ke puncak
sana. Merapalkan doa-doa kepada Sang Pencipta, mendoakan kebaikan kepada
Syaikh Subakir; penakluk Paku Tanah Jawa. Seketika kulihat, sekelompok
muda-mudi yang mulai menapakan kaki di gerbang baru yang tercipta dari
jebolan tembok pagar Tidar, melangkah dalam kobaran semangat. Ada tujuh
orang yang semuanya menggendong tas besar yang entah apa isinya. Mereka
asyik bercakap, tanpa memperhatikan aku yang sedang duduk di dekatnya.
Hanya beberapa dari mereka yang menatapku, tetapi mereka tiada peduli
kepadaku. Apalagi peduli, senyum pun mereka enggan.
Mereka mulai mendaki, dan semakin dekat denganku yang masih asyik duduk
sendiri. Kuperhatikan lebih seksama, ternyata mereka di dampingi oleh
orang yang lebih tua. Orang tua itu mengenakan pakaian Jawa, lengkap
dengan blangkon. Aku jadi teringat Damarwulan yang pernah tampil dalam
upacara bendera 17 Agustus di puncak gunung ini. Mereka terlihat sama,
tampan dan anggun sekali. Aku sampai kagum melihatnya. Orang tua yang
berjiwa muda. Sementara enam yang lainnya, mereka masih sangat muda.
Lelaki agak gendut dengan jaket abu-abu, lelaki kurus dengan kaos hitam,
lelaki dengan jaket hitam dan tas coklat, wanita berkerudung kuning,
berkerudung hitam, berkerudung coklat; mereka berjalan beriringan di
dampingi oleh sang Damarwulan.
Mereka berjalan tepat di
depanku, tetapi mereka tiada menyapa. Malah sebagian dari mereka
menjauhiku. Aku masih tetap tidak bergeming, menatap mereka yang
menatapku tak peduli. Aku berharap salah satu dari mereka akan
mengulurkan sesuatu kepadaku, ternyata tidak. Mereka sombong sekali.
Tiada peduli dengan aku dan kami.
Aku sadar
diri, aku hanya seekor monyet di pelataran Gunung Tidar. Tetapi
setidaknya mereka peduli kepada kami. Kami mengharapkan makanan yang
mereka ulurkan. Peduli kepada kami untuk tetap lestari di Tidar ini
Saturday, 22 November 2014
Pagi, di Rumah Kami
Related Posts
Load comments
Subscribe to:
Post Comments (Atom)