Saturday, 22 November 2014

Pagi, di Rumah Kami

Pagi ini, embun di ruam-ruam pucuk cemara yang mulai tanggalkan gigilnya, menekuri ranum bersama semburat mentari yang mulai merekah. Hangat membalut bening yang mulai menguap dalam asap, menyatu dalam udara. Kembali dalam siklus yang berlanjut terus menerus. Hingga suatu masa, ketika sang Maha Bijaksana menghentikan alur mayapada. Menghiasi semesta dalam temaram yang berdiri angkuh bak tebing-tebing perkasa. Luruh dalam rapuh, harapkan kebaikan yang akan menolong setiap insan. Dalam setiap benih yang disemai, dalam setiap perbuatan yang dilakukan.
          Aku masih bersahabat dengan embun, meski pagi ini ia pulang lebih cepat dari biasanya. Kupandangi lekuk molek tubuh Tidar, selalu mempesona dan membuatku kian jatuh hati padanya. Tinggi dahan pinus dan rimbunnya petak salak, selalu membuatku betah untuk bermanja kepadanya. Ah, Tidar memang begitu. Selalu begitu.
          Aku duduk di bawah pohon pinus, menyaksikan lalu lalang orang yang mulai menapaki tubuh kekasihku. Aku tahu, mereka mempunyai niat yang baik pergi ke puncak sana. Merapalkan doa-doa kepada Sang Pencipta, mendoakan kebaikan kepada Syaikh Subakir; penakluk Paku Tanah Jawa. Seketika kulihat, sekelompok muda-mudi yang mulai menapakan kaki di gerbang baru yang tercipta dari jebolan tembok pagar Tidar, melangkah dalam kobaran semangat. Ada tujuh orang yang semuanya menggendong tas besar yang entah apa isinya. Mereka asyik bercakap, tanpa memperhatikan aku yang sedang duduk di dekatnya. Hanya beberapa dari mereka yang menatapku, tetapi mereka tiada peduli kepadaku. Apalagi peduli, senyum pun mereka enggan.
          Mereka mulai mendaki, dan semakin dekat denganku yang masih asyik duduk sendiri. Kuperhatikan lebih seksama, ternyata mereka di dampingi oleh orang yang lebih tua. Orang tua itu mengenakan pakaian Jawa, lengkap dengan blangkon. Aku jadi teringat Damarwulan yang pernah tampil dalam upacara bendera 17 Agustus di puncak gunung ini. Mereka terlihat sama, tampan dan anggun sekali. Aku sampai kagum melihatnya. Orang tua yang berjiwa muda. Sementara enam yang lainnya, mereka masih sangat muda. Lelaki agak gendut dengan jaket abu-abu, lelaki kurus dengan kaos hitam, lelaki dengan jaket hitam dan tas coklat, wanita berkerudung kuning, berkerudung hitam, berkerudung coklat; mereka berjalan beriringan di dampingi oleh sang Damarwulan.
          Mereka berjalan tepat di depanku, tetapi mereka tiada menyapa. Malah sebagian dari mereka menjauhiku. Aku masih tetap tidak bergeming, menatap mereka yang menatapku tak peduli. Aku berharap salah satu dari mereka akan mengulurkan sesuatu kepadaku, ternyata tidak. Mereka sombong sekali. Tiada peduli dengan aku dan kami.

          Aku sadar diri, aku hanya seekor monyet di pelataran Gunung Tidar. Tetapi setidaknya mereka peduli kepada kami. Kami mengharapkan makanan yang mereka ulurkan. Peduli kepada kami untuk tetap lestari di Tidar ini

Load comments