Saat sepi menghiasi hati, berjuta sedih dan sesal mengukir
dengan pahat-pahat kenistaan. Memberikan goresan-goresan pedih pada
hati yang terluka. Air mata ikut bersaksi dengan berurai dan ratapanpun
menghiasi. Semua telah mengubur jiwa dengan lumpur keputus asaan.
Menyeret dan memaksa untuk tenggelam dalam kegelapan dan kebinasaan.
Membuat aku merasa bukanlah diriku. Seakan cinta yang aku punya bukanlah cinta yang aku miliki.
Kegelapan
yang datang. Akupun tak tahu darimana, tiba-tiba dia ada. Membungkam
jiwa yang berteriak ingin kembali. Dan kudengar rintihan yang jauh.
" Kembali.... Kembalilah....! "
Namun tidurku tak terbangunkan olehnya. Karena kegelapan itu telah menjadikan selimut dalam tidurku. Aku merasakan kehangatan yang hampa dan sulit aku singkapkan. Sedih dan luka yang aku punya telah menjadi mimpi-mimpi indahku. Aku terlarut.
Detik demi detik telah berjalan meninggalkan waktu yang telah terlewati. Pergi nan jauh dan tak pernah untuk kembali. Namun aku masih menikmati tidurku dalam kegelapan itu. Kehangatan hampa yang aku rasakan semakin membuatku tenggelam. Tak terdengar lagi rintihan mereka. Tak kulihat lagi senyum mereka. Senyum yang tulus, yang selalu memintaku untuk kembali. Kini aku telah buta dan tuli. Buta dalam menentukan jalan yang harus aku lalui dan tuli dari segala pinta yang memintaku untuk kembali. Kembali untuk menjadi aku yang dahulu.
Entah mengapa rintihan itu terdengar lagi dalam mimpiku. Ia hadir lagi meminta.
" Kembali.... Kembalilah...! "
Namun ketika aku ingin memanggilnya, kegelapan telah ada di depanku. Membawa aku tenggelam lagi. Terlarut dalam kehampaan Yang terasa indah dalam derita. Mengusir rintihan itu yang setapak demi setapak meninggalkan aku yang terlarut dalam mimpi dan terbalut oleh luka.
" Kembali.... Kembalilah....! "
Namun tidurku tak terbangunkan olehnya. Karena kegelapan itu telah menjadikan selimut dalam tidurku. Aku merasakan kehangatan yang hampa dan sulit aku singkapkan. Sedih dan luka yang aku punya telah menjadi mimpi-mimpi indahku. Aku terlarut.
Detik demi detik telah berjalan meninggalkan waktu yang telah terlewati. Pergi nan jauh dan tak pernah untuk kembali. Namun aku masih menikmati tidurku dalam kegelapan itu. Kehangatan hampa yang aku rasakan semakin membuatku tenggelam. Tak terdengar lagi rintihan mereka. Tak kulihat lagi senyum mereka. Senyum yang tulus, yang selalu memintaku untuk kembali. Kini aku telah buta dan tuli. Buta dalam menentukan jalan yang harus aku lalui dan tuli dari segala pinta yang memintaku untuk kembali. Kembali untuk menjadi aku yang dahulu.
Entah mengapa rintihan itu terdengar lagi dalam mimpiku. Ia hadir lagi meminta.
" Kembali.... Kembalilah...! "
Namun ketika aku ingin memanggilnya, kegelapan telah ada di depanku. Membawa aku tenggelam lagi. Terlarut dalam kehampaan Yang terasa indah dalam derita. Mengusir rintihan itu yang setapak demi setapak meninggalkan aku yang terlarut dalam mimpi dan terbalut oleh luka.