Saturday, 22 November 2014

Part II

Rintihan itu hadir kembali dalam mimpiku ketika aku merasa begitu hampa. Terdengar sayup-sayup dan sangat jauh. Ada asa dalam jiwaku untuk mengejarnya. Saat aku beranjak, kegelapan telah datang kembali seakan menjadi duri penghalang yang memaksaku untuk tetap diam. Mengurung dan menyiksaku dalam ketidak berdayaan. Dan kehangatannya membawa aku kembali dalam dunia maya. Tapi rintihan itu masih terdengar mengalun lemah. Memanggilku untuk kembali.
Aku berusaha untuk singkapkan kehangatan semu itu karena hati kecilku telah berbisik agar aku kembali.
" Kembalilah, karena rintihan itu adalah dirimu yang sejati. "
Tanpa peduli aku singkirkan dan aku buang selimut kelam yang selama ini menghantuiku dalam ketakutan. Ku terobos duri penghalang dan tak ku hiraukan rasa perih tersayat. Aku berlari dengan seribu sesalku. Tanpa peduli atas luka dan duka yang ada.
Aku tejatuh ketika ku terbangun lari. Ku coba untuk berdiri dan berlari lagi. Tanpa putus asa ku kejar dirinya. Ini adalah perjuangan diantara hidup dan mati. Hidup untuk kembali atau mati dalam kegelapan dan kebinasaan.


Pada akhir yang panjang ku dapat meraih dan menyentuhnya. Saat ku gapai jemarinya, aku merasakan ketenangan dan kedamaian yang sangat aku rindukan. Aku bersandar dalam peluknya. Aku merasakan kehangatan cinta yang seungguhnya. Inilah hidup yang selama ini aku impikan. Mimpi yang telah menjadi kenyataan.  Aku telah kembali. Kembali menjadi aku yang dahulu.

Saat ku buka mata, ia telah pergi dari sisiku.Tak ada dan tak ku temukan dirinya. Ada sesal dalam benakku karena ku belum ucapkan terima kasih padanya. Ku hanya bisa berharap, suatu saat aku dapat berjumpa dengan dirinya. Tuk ucapkan seribu terima kasih, walau semua itu tak dapat menebus kebaikannya. Tapi hanya itu yang dapat aku lakukan. Karena pinta ini tulus dari hatiku yang paling dalam.

Saat matahari mulai tenggelam, kita dapat melihat keindahan yang ia ciptakan. Kemunduran bukan berarti kehancuran. Dengan sinarnya, kita dapat melihat keindahan ufuk senja yang tersenyum dalam balutan warna jingga. Ketika gelap mulai datang, berjuta bintang menghiasi malam yang kelam. Tersenyum pada dunia yang bermimpi untuk dapat memetiknya.
Ku panggil bintang dan inginku ceritakan kebahagiaan merindu pada dirinya. Ku berteriak serak dalam lisan berkata tanpasuara.

Dengarkanlah kau bintang
Disini aku merindukan dirinya
Tuk terangi indah dalam gelapku
Usirkan luka pergi dari jiwaku
Dengarkanlah kau bintang
Disini ku memintamu
Ijinkanku pinjam bias-bias cinta dari sinarmu
Untuk menjadi mimpi indah dalam tidurnya
Dengarkanlah kau bintang
Disini kasih pernah berbunga tiada harum tiada warna
Disini cinta pernah membara tanpa dahan dan tanpa apinya
Diantara kau dan aku tiada saling berucap kata
Kau tersenyum wajah, tubuh, mata
Semuanya putih
Membasuh dan menyejukkan jiwa yang merindukannya
Dengarkanlah kau bintang
Aku ingin katakan padanya
Betapa rindu hati untuk dapat melihat senyumnya
Sampaikan lagu cinta untuknya
Menemani malam-malam sepinya
Memberikan nuansa indah dalam sinarmu
Hapuskan air mata
Hilangkan sedih dan lukanya
Dengarkanlah kau bintang
Bahwa aku selalu bermimpi untuk selalu bersamanya
Bermimpi untuk memetik indahnya
Merangkainya,menguntainya
Menjadikan cinta dalam hidupku
Menjadikan hidup dalam kasihku
Dengarkanlah kau bintang
Ijinkan aku untuk selalu bersamamu
Bersandar dalam cahayamu
Rebahkan jiwa yang lelah dalam belaianmu
Dengarkanlah kau bintang
Bahwa ia adalah bintang hati yang membawa seribu pesona
Tebuskan dahaga
Hilangkan duka
Balutkan cinta
Tunjukkan lukisan malam dalam sinarmu
Dalam sinar agungmu
Memberikan harapan cinta dalam hidupku
Dengarkanlah kau bintang
Aku merindukan dirinya
Aku membutuhkan dirinya
Dan aku sangat mencintainya
Dengarkanlah kau bintang
Dengarkanlah..........

Load comments