Saturday, 22 November 2014

Pesan Basah; Sepasang Pipit

Pagi tadi, kisah ketika asa menemani langkah basah, mengaburkan bayang morgana akan derau risalah. Tentang sepasang pipit yang mengais sisa padi, berdua dalam lapar dan dahaga. Mereka terlihat tegar dalam kepakan, bercericit riang bersahutan. Mereka hadir mensyukuri pagi yang masih datang, menafkahi segelintir pinta mereka. Ah, betapa bahagianya mereka dalam kesederhanaan. Betapa tegarnya mereka akan memaknai kehidupan. Sepasang pipit yang menjadi guruku di pagi ini.

Pikiran ini terbang untuk pulang dan hinggap pada sosok belahan jiwaku. Seorang istri shalehah yang selalu ada untukku. Betapa bersyukurnya hati ini memilikinya, harta yang paling berharga. Ada janji yang terikat, bahwa aku akan selalu menjaganya dalam hidup hingga matiku. Setia menemaninya dalam gelap, remang temaram dan terang benderang.

Engkau tak akan pernah terganti untuk selamanya.
Kita selamanya.

Pipit jiwaku_
Putri An-Nissa Nailathul Izzah.

Load comments