Tuesday, 20 October 2015

Mantu dan Mertua (Mereka Berbeda)






Menikah, ritual sakral yang telah aku lalui dua puluh bulan silam. Meminang gadis Bone yang cantik rupawan, yang membuat hatiku luluh saat pandangan pertama, yang menjadikan cinta ini miliknya seutuhnya. Ah, hidup ini menjadi lebih berwarna akan hadirnya. Memiliki semua tentangnya, dan tentu saja orangtuanya yang kini menjadi mertua bagiku.


Ayah dari istriku berbeda. Dia bukanlah mertua yang selalu mendikte menantunya. Bukan mertua yang sering bercengkrama di beranda sambil beradu perang strategi papan catur. Berteriak ‘skak’ sambil menimang anak catur atau menekan-nekan kepalanya saat pasukannya porak poranda.


Ayah dari istriku tidak seperti mertuanya Andi yang sering marah-marah karena hal-hal sepele. Marah ketika kopi yang disajikan kurang manis atau terlalu pahit. Marah ketika korannya telat datang meskipun hujan. Marah pada Andi yang selama ini dianggapnya menumpang dan selalu menjadi beban tambahan.


Ayah mertuaku tidak seperti ayah mertuanya Mbak Menik. Mertua yang telah ditinggal istrinya beberapa tahun silam. Tetapi matanya nanar ketika melihat Mbak Menik menyusui si Amel anaknya. Hingga suatu saat, ia hampir memperkosa menantunya sendiri. Untung saja Mas Fajar, anak laki-lakinya yang menjadi suami Mbak Menik, pulang lebih awal dari tempatnya bekerja.


Begitu juga dengan ibu mertuaku. Ibu mertua yang tak pernah membicarakan kejelekanku pada tetangga. Mengolok-olokku, ketika jatah rupiah pada istriku tak mencukupi. Ketika dapur keluargaku tak mengepul, atau ketika lebaran datang dan aku tak bisa memberikannya kebaya serta sepeser uang.


Ibu mertuaku tak pernah menuntutku untuk jadi orang yang begini dan begitu. Tak pernah mempermasalahkanku yang masih kuliah. Tak pernah menganggapku sebagai anak ingusan yang masih sekolah.


***


Mereka, ayah dan ibu mertuaku. Mereka yang tak pernah menatapku ketika kami bicara. Mereka yang berbeda.


***


Aku, menantu bagi mereka. Menantu yang juga tak pernah menatap mereka ketika kami berbicara. Aku yang berbeda.


***


Mereka, yang telah menyematkan gelar mantu di dadaku. Mempercayakan putrinya untuk mendampingi hidupku. Merelakan mereka untuk menjadi mertua bagiku, merelakan putrinya untuk jauh dari gapainya demi bersanding denganku. Mertua yang mengajarkanku bijaksana, sabar dan tegar dalam memecah hambar kehidupan.


Meskipun kami tak pernah bertatap saat kami bercakap, bukan kebencian yang melandasinya. Tapi jarak dan ruang yang memisahkan. Yang memaksa kami berbicara melalui udara, menyusun sinyal-sinyal dari ponsel kami. Menghubungkan Jawa dan Sumatra dalam hitungan detik. Menjadikan kami berbeda.


Ayah, Ibu... Segala kerinduan ini bersemi di dalam dada. Memenuhi sepanjang pesisir pantai, menyeberangi selat Sunda hingga hadir di pangkuanmu. Dan kupinta pada Bijaksana, agar kita cepat bertemu. Mantu, mertua.

***







#Terbit bersama Antologi "Aku dan Mertua"



Baca: Dunia Parenting: Anak sangat membutuhkan peran orang tua

BAB 2: Terusir (Novel Mencari Hujan)





Pagi ini, pagi di tanggal 18 September 2007. Entah aku merasakan hal lain dari pagi-pagi sebelumnya. Ada semacam firasat yang menyusup dalam relung hati, membuatku gelisah. Aku tidak tahu apa itu, yang jelas pagi ini hatiku tidak tenang. Aku terbangun lebih dari 7 kali di malam tadi. Entah juga karena apa. Padahal aku juga tidak bermimpi buruk.


Gerimis seakan menambahi bumbu dalam kegelisahanku. Mengaduk-aduk hati yang gulana. Larut bersama desis angin yang masuk melalui sela-sela ventilasi, merasuk menusuk pori-pori. Aku menekurinya dari balik kaca kamar tidurku. Mencoba mencari kanvas dari pucuk-pucuk rumput untuk melukiskan kegelisahanku. Aku ingin berbagi dengan mereka, tentang kegelisahan yang tak jelas karena apa. Aku tak merasa nyaman di pagi ini.


“Mas tidak berangkat kerja?” suara istriku sedikit mengagetkanku. Ia membawakan secangkir kopi hangat dan meletakan di meja. Kamarku berukuran 4 meter persegi dengan tembok yang aku cat warna hijau muda. Bila masuk ke dalam kamar, sebuah lemari kayu berwarna coklat berdiri di depan. Berdampingan dengan rak buku yang penuh dengan koleksi novel istriku. Di atasnya, terpaku sebuah jam dinding bulat warna biru. Sebuah bed tergeletak di lantai tanpa dipan yang menyangganya. Aku dan istriku sepakat untuk tidur lesehan, menggelar bed langsung di lantai dengan beralaskan karpet warna coklat tua. “Biar seperti orang Jepang,” begitu yang selalu istriku bilang.


Berhadapan dengan jendela, aku meletakan sebuah meja kecil tempatku membaca atau lembur pekerjaan. Jika duduk di sana, pemandangan dari kaca jendela langsung terpampang di depan mata. Sebuah taman kecil dengan bunga-bunga mawar yang terjejer. Dihimpit pohon mangga yang meranggas dan belum berbuah.


“Berangkat Nda, sebentar lagi,” aku menjawabnya sambil melirik jam dinding yang terpaku dan menunjuk angka 7.16. Masih cukup pagi mengingat jam masuk kerja di kantorku pukul 08.00. Sementara lama perjalanan dari rumah ke kantor hanya 10 menit. Aku lebih suka memanggil istriku dengan sebutan dinda. Aku merasa lebih romantis dan asyik dengan sebutan itu, dan ia lebih suka memanggilku mas.


Aku mendekatinya, mengelus perutnya yang mulai membuncit. Hari ini tepat 2 minggu ia mengandung buah cintaku, setelah 2 tahun menunggu kehadirannya. Ingin aku berbagi kegelisahanku di pagi ini, tapi aku tak ingin membuat ia khawatir kepadaku. Tapi bukan istriku kalau dia tidak bisa menebak apa yang terjadi denganku.


“Apa sih yang mas pikirkan, ada masalah di kantor? Atau ada yang Nda buat dan kurang berkenan di hati mas?” Istriku mencoba memaksaku untuk bercerita kepadanya.


“Nggak kok Nda, Mas nggak kenapa-kenapa. Mungkin karena hujan, pagi-pagi kok sudah hujan. Kalau gerimis seperti ini biasanya lama,” aku berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Oh, karena hujan to mas. Hujan kan juga rejeki dari Allah, jadi tetap wajib disyukuri. Bukan malah menjadikan penghalang untuk beraktifitas, apalagi menjalankan kewajiban mencari rejeki untuk menghidupi keluarga. Ingat, bentar lagi kita punya dedek,”


Aku tersenyum kepadanya, menatap matanya yang bening dan terlihat aku di sana. Mengelus-elus perutnya lagi. Aku jongkok di depannya, ku bisikan sesuatu di perutnya.


“Dedek yang di sana, jangan nakal ya. Jangan buat Bunda mual dan muntah lagi. Tumbuhlah dengan sehat, kami tidak sabar menunggu dedek lahir,”


Istriku tersenyum dan mengelus-elus kepalaku. Memijat perlahan dengan penuh kasih sayang.


“Iya Yanda, dedek nggak bakal nakal. Sekarang Yanda berangkat kerja, biar dedek bisa dibelikan susu. Dan jangan lupa kopi yang Bunda buatkan untuk Yanda diminum,” istriku berujar mewakili buah cinta kami.


Aku tertawa, hilang sementara kegelisahan dari dalam dada. Aku segera meminum kopi yang mulai dingin, tetapi tetap terasa nikmat karena dicampur ramuan khusus; cinta. Kuteguk habis tanpa sisa. Aku mengambil jaket dari atas bed, mengenakannya. Menggendong ransel yang terasa berat oleh sebuah laptop dan dua jurnal tebal tentang Petunjuk Teknis Operasional. Mengambil kunci motor dari atas rak buku, bersiap berangkat ke kantor.


“Ya sudah, ayah berangkat dulu ya Dek. Sampai ketemu nanti. Nitip pesen jagain Bunda,”


“Iya, pasti itu. Yanda jangan lupa pakai mantel. Hujannya belum reda,” tentu saja istriku yang menjawab.


“Siap Nda, Assalamu’alaikum..” Aku berpamitan sambil menyodorkan tanganku, disambut kecupan hangat. Aku membalas mengecup keningnya.


“Wa’alaikumsalam, hati-hati mas,”


Kukeluarkan Beat putihku dari garasi, mengambil mantel yang ada di bagasi bawah jok dan mengenakannya. Tidak lupa aku mengenakan helm INK centro warna kuning emas untuk menutupi kepalaku. Pelajaran berharga: bila berkendara menggunakan sepeda motor, kenakanlah helm. Tentu saja untuk safety bagi penggunanya.


“Bismillah..” ku terobos hujan demi kewajiban.


***


Aku bekerja di salah satu Program Pemerintah yang berkecimpung dalam dunia pemberdayaan masyarakat. Mengelola dana BLM (Bantuan Langsung Masyarakat) dalam bentuk kegiatan sarana prasarana, pelatihan, peningkatan kapasitas hidup, kesehatan, pendidikan dan pinjaman modal untuk usaha produktif. Tentu saja program ini berorientasi pada rakyat miskin. Selain dana BLM, kami juga mendapatkan alokasi DOK (Dana Operasional Kegiatan) untuk RAB (Rencana Anggaran Biaya) selama satu tahun. Sama dengan dana BLM yang didasarkan pada RAB 1 tahun.


Lebih menariknya lagi, untuk penggalian gagasan benar-benar dilakukan dari masyarakat. Mereka dikumpulkan dalam agenda Musdus (Musyawarah Dusun) untuk mencari sarana prasarana apa yang mereka butuhkan. Berembuk dan bermusyawarah tentang pelatihan apa yang mereka butuhkan, apakah mereka butuh akses kesehatan yang lebih baik, atau sarana pendidikan yang terpenuhi. Dan bagi mereka yang mempunyai usaha produktif, berapa besar modal yang mereka butuhkan untuk mengembangkan usahanya.


Dari Musyawarah Dusun ini, hasilnya kemudian di bawa dalam Musdes (Musyawarah Desa). Hasil ini akan dirumuskan dalam RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa) yang disusun dan dibukukan untuk rencana pembangunan 5 tahun ke depan. Dan di tahun selanjutnya, Musdus dan Musdes hanya mereview dokumen RPJMDes untuk dibuatkan proposal.


Hasil dari dokumen RPJMDes kemudian dikonsultasikan di kantor kecamatan, untuk dikorensi dan dikirim ke tingkat kabupaten. Dokumen RPJMDes ini juga sebagai bahan diadakannya MusrenbangKec (Musyawarah Rencana Pembangunan Kecamatan) untuk dibahas. Dengan demikian, pembangunan desa sudah terencana untuk 5 tahun ke depan. Kabupaten juga mempunyai data potensi desa yang pasti akan memudahkan pembangunan. Sangat mengena bukan, karena berorientasi dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.


Aku duduk terpaku menatap neraca microfinance yang merengek-rengek di Microsoft Excel laptop Samsungku. Meminta data link dari Laporan Operasional dan rekening bank. Menginputnya dengan jendela yang sama-sama dibuka, tentu saja dalam file yang sama; Microsoft excel.


='D:\Laporan\Keuangan\Pembukuan\[1. Buku Bank.xls]buku bank Operasional'!$U$67. Enter… Muncul angka Rp. 10.891.320,- di kolom Saldo Bank Operasional Neraca Microfinance. Kulihat saldo total Aktiva, Rp. 10.397.581.324,- dan kutarik ke saldo total Pasiva, muncul angka Rp. 10.397.581.324,- angka yang sama. Aku mencoba memformulakannya lagi, 10.397.581.324 – 10.387.581.324 = 0. Balance, berarti benar. Tidak ada selisih di antara pasiva dan aktiva. Aku melepaskan kacamataku, menarik nafas dalam-dalam sambil meregangkan otot.


Lagu Mahadewi muncul dari ponselku, irama merdu dari band Padi yang dilantunkan oleh Fadli ini memberitahu bahwa istriku menelpon. Aku buru-buru mengangkatnya.


“Assalamu’alaikum Nda, ada apa,? Hening, kudengarkan suara hela nafas panjang dan isak tangis.


Aku terduduk lemas mendengar isak tangis istriku dari seberang telpon. Memintaku untuk pulang lebih awal dari kantor. Hanya itu yang ia minta dari balik telponnya.


“Mas segera pulang, Nda mohon,”


Pikiranku berlari ke mana-mana. Bersua dengan firasat tadi malam yang terus menghantuiku sampai pagi. Berfikir tentang sesuatu hal yang sangat tidak mengenakan. Jangan-jangan Dinda kenapa-napa. Jangan-jangan Dedek kenapa-napa. Mungkin hal buruk terjadi pada keduanya. Atau ada hal yang lebih mengkhawatirkan lagi. Aku cemas sekali. Kucoba tepis pikiran-pikiran jahat yang berseliweran di kepala, tetapi malah semakin menjadi. Aku ingin cepat pulang.


Segera kukemasi tasku, hingga laptop kututup saja tanpa dimatikan terlebih dahulu. Buru-buru aku menghadap pimpinan untuk meminta ijin pulang lebih awal. Kusampaikan alasanku meminta ijin pulang. Atasan mengerti dan memperbolehkanku untuk pulang lebih awal. Kuucapkan terimakasih kepadanya dan langsung menghambur pulang.


Kukebut si putih menyusuri jalan pulang. Hatiku benar-benar tidak tenang, ingin segera sampai di rumah. Aku sampai dimaki oleh sopir angkot yang hampir aku tabrak. Aku tak dengar ia marah-marah, karena pada saat itu juga aku tarik gas motorku lebih dalam. Yang kulihat dari balik spion, ia mengacungkan tinjunya kepadaku. “Maaf pak,” gumamku dalam hati.


***


Ku ketuk pintu kamar sambil mengucapkan salam. Tak lama, terdengar suara istriku lirih menjawab salam sambil membukakan pintu. Segera aku masuk dan kupeluk istriku yang masih berderaikan air mata. Mukanya pucat, isaknya juga sudah habis. Aku juga belum bisa berkata apa-apa, membiarkan ia menuntaskan tangisnya di pelukanku.


Empat menit aku membiarkan ia melampiaskan sedihnya. Aku biarkan air matanya membasahi baju kantorku. Perlahan ia mulai mengendorkan pelukannya kepadaku, menatapku dengan mata yang sembab. Aku baru bisa berkata, menanyakannya kenapa.


“Kenapa Nda, cerita sama mas,” aku bertanya lembut sambil mengajaknya duduk di bed. Mengusap airmatanya yang masih basah di pipi.


“Aku merasa sudah tidak nyaman mas tinggal di rumah ini,” jawabnya pendek.


“Kenapa sayang? Ada yang salah dengan Mas sehingga Nda merasa tidak nyaman di rumah?” aku mencoba untuk mengetahui alasannya.


Ia hanya menggeleng perlahan. Airmatanya mengalir lagi di pipinya. Kali ini aku mendengar ia terisak dan sesenggukan. Aku jadi semakin bingung.


“Sayang, cerita dong sama Mas. Sedihnya jangan ditampung sendiri. Mari kita bagi permasalahan ini dan kita selesaikan berdua,” aku masih mencoba untuk membujuknya agar ia mau bercerita.

Ia masih terisak perlahan, menyeka air mata dari pipinya.

BAB 1: Peron Stasiun Lempuyangan (Novel Mencari Hujan)





Hujan masih turun satu-satu, membasahi baja hitam yang berbaring berpasangan, berderet deret dan bergandengan berjajar. Pun atap stasiun yang mengalirkan rintik-rintik itu menjadi deras. Menetes, melubangi lantai semen yang terkoyak di sana-sini. Papan nama yang bertuliskan ‘Lempuyangan’ yang sudah memudar catnya membeku dan basah kuyup. Bahkan huruf L sudah tak tertulis dan hilang dari papan. Tertulis empuyangan, yang membuatku tersenyum getir dan ngilu.


Stasiun Lempuyangan hanya terletak 1 km sebelah timur dari stasiun utama Yogyakarta; Stasiun Tugu. Stasiun dengan rel yang membujur dari barat ke timur ini melayani pemberhentian semua kereta api ekonomi yang melewati Yogyakarta. Jam reservasi mulai 07.30 hingga pukul 00.00 tengah malam. Di dekat stasiun Lempuyangan, terdapat rel yang menuju Balai Yasa Yogyakarta dengan keunikan melewati perkampungan dan berbaur dengan gang-gangnya. Balai Yasa Yogyakarta ini adalah bengkel kereta api terbesar di Jawa.


Peron stasiun juga terlihat masih sepi. Hanya beberapa orang yang duduk sambil menunggu kereta datang. Ku tengok jam dinding usang yang terpaku di tembok peron, menunjuk angka 07.14. Pagi yang basah, dengan rinai hujan yang belum juga reda. Tidak peduli akan wanita renta yang menjajakan sarapan di stasiun, tidak peduli pada tukang becak yang rela bersua dingin demi mendapatkan penumpang. Terkesan pagi yang jahat, dingin yang kejam.


“Monggo den, ngersaaken sego pecel mboten?” seorang wanita yang mulai renta menawarkan jajanannya kepadaku. Usianya mungkin lebih dari 60 tahun, bahkan lebih dari 70 tahun. Pakaiannya sederhana sekali. Mengenakan tapeh batik lusuh warna coklat bermotif bunga. Sekilas kukenali bahwa itu adalah batik Jogja dari motif bunganya. Motif bunga melati yang saling sambung, motif batik parangkusumo. Sementara ia membalut badannya dengan baju kebaya dengan warna sepadan. Rambut yang lebih banyak putih dibandingkan dengan yang hitam ia sanggul ke belakang.


“Nggih Mbok, setunggal mawon. Kalian wonten punopo kemawon?” aku mengangguk dan bertanya kepadanya.


“Wonten pecel, kluban urap, tempe goreng kalian tahu bacem den. Oh, kalian puniko, teri goreng sekalian sambelipun. Monggo.” Wanita itu tersenyum sambil meletakan dagangannya. Membongkar isi tenggok yang sejak tadi ia gendong berkeliling peron. Mengeluarkan bungkus-bungkus plastik dan beberapa piring bersih. Ia kemudian membuka termos nasi yang ditentengnya. Menyentong nasi yang masih mengepul ke dalam piring.


“Kalian punopo meniko den?”


Aku melongok ke dalam isi gendongannya sambil tersenyum. Membuka beberapa plastik yang telah dikeluarkan dari tenggok.


“Kalian pecel mawon Mbok. Diparingi tempe, teri goreng kalian sambelipun nggih. “ aku membalas senyumnya yang sejak tadi tersungging dari wajahnya yang berkerut-kerut. Melukiskan keteguhan dan keikhlasannya menjalani hidup ini. Hati kecilku berteriak.


Aku menghabiskan sarapanku dengan lahap. Menikmati nasi pecel, tempe goreng, teri goreng dan sambal terinya yang super enak. Lebih enak dari rumah-rumah makan jungfood. Jauh lebih murah dan tanpa bahan-bahan kimia yang neko-neko. Jauh lebih sehat, tetapi dipandang sebelah mata.


“Mbok, bungkus setunggal malih nggih. Kalian kluban urap, tahu baceme kalih, tempe gorenge kalih, teri lengkap kalian sambelipun.” Aku nyengir sambil menatapnya yang masih saja tersenyum kepadaku.

“Nggih den. Pedes punopo mboten puniko?”

“Sedengan mawon Mbok, ampun pedes-pedes.”

Kulihat wanita penjaja makanan ini membungkus nasi pesananku dengan gesit dan cekatan. Menyobek daun pisang dan mengelapnya dengan lap yang bersih. Menyentong nasi dan menuangkan beberapa di atasnya. Meracik kluban urap dan membubuhkan sambal kelapa yang membuatku merasa lapar lagi.

“Sampun dangu sadeyan wonten stasiun Mbok?” aku mencoba bertanya untuk mengetahui sedikit tentang wanita ini.


“Kirang langkung sampun gangsal tahun den. Damel nyekapi kebutuhan wonten ndalem.” Wanita itu masih saja tersenyum, seperti tak ada habisnya.

“Dangu nggih Mbok. Mboten wonten ingkang ngrencangi?”

“Mboten wonten den. Kulo tinggal namung kalian putu kulo setunggal. Sakmeniko tasih sekolah ting SD.” Mimik mukanya berubah, aku jadi menyesal menanyakan hal itu.

“Puniko den, sampun. Monggo.” Wanita itu menyulurkan plastik kresek warna hitam yang di dalamnya berisi nasi pesananku. Aku menerimanya dengan tersenyum.


“Sedanten pinten Mbok?” aku menanyakan harga semua makanan yang aku sebutkan satu persatu. Merogoh dompet dari tas carier warna hitamku.


“Sangangewu den, sedantenipun.” Mbok tersebut menyebutkan harga makanan yang harus aku bayar.


“Mboten klentu Mbok?” aku menanyakan kalau takut salah hitung. Murah banget.


Mbok penjual makanan tersebut malah sedikit kaget. Menghitung ulang harga makanan yang aku makan dan yang aku tenteng di tangan.


“Mboten den, lha pripun? Kelarangen nggih?” Mbok kaget takut kalau harga makanan yang aku beli terlalu mahal.

“Mboten Mbok, malah murah sanget.” Aku memberikan uang lima puluh ribu kepadanya.

“Engkang pas mawon Den, mboten wonten susukipun.” Ia menyodorkan uang lima puluh ribu kembali kepadaku. Meminta aku untuk membayar dengan uang pas karena tidak ada kembaliannya.


“Sampun Mbok, kagem Simbok kemawon.” Aku bermaksud untuk tidak meminta uang kembaliannya.


“Mboten Den, mboten usah.” Wanita itu berusaha menolak menerima sedikit pemberianku.

Ulu hatiku tertohok mendengar perkataannya. Melihat kesulitan hidupnya, tetapi masih berusaha untuk tidak menerima bantuan dari orang lain. Melihat pribadi yang teguh dan ikhlas menjalani kehidupan ini. Berbeda dengan manusia muda jaman sekarang. Yang banyak mengeluhkan kehidupannya yang ia anggap sulit. Tubuh sehat dan tenaga masih kuat, tetapi meminta-minta di pinggir jalan. Mengamen dengan modal alat musik seadanya dan suara pas-pasan. Berbanding terbalik dengan wanita yang ada di hadapanku sekarang. Aku juga malu dengan perkataannya. Karena kadang aku masih banyak mengeluh dalam menghadapi permasalahan hidup.


“Dipun tampi kemawon Mbok, mboten wonten sepinten kok. Kulo nggih mboten gadah arto ingkang pas.” Aku beralasan agar ia mau menerima sedikit permberianku.


“Walah, matursuwun sanget Den. Mugi Allah mbales puniko kanti rejeki ingkang langkung katah. Mugi dados amalipun panjenengan.” Wanita itu berterimakasih sambil berkaca-kaca. Berulangkali ia mengucapkan hamdallah, tanda syukur kepada Allah.


Hatiku semakin trenyuh, kecil di hadapan wanita perkasa itu. Melihatnya selalu bersyukur dengan apapun itu, apapun yang mesti ia hadapi. Tetap semangat menjalani hidup dalam kesusahan. Bukankah dibalik kesusahan ada kemudahan?


Aku kembali duduk di peron stasiun, melihat wanita tadi yang membenahi dagangannya. Memasukan bungkusan-bungkusan plastik ke dalam tenggok, kemudian menggendongnya. Menenteng tremos nasi sambil berjalan. Menebar senyum sambil menawarkan dagangannya. Ku lihat ia mendekati seorang ibu-ibu yang melambaikan tangan kepadanya. Menurunkan tenggok yang ia gendong, membuka dan mengeluarkan semua isinya. Menuang nasi ke dalam piring dari dalam termosnya, masih saja dengan senyum yang tiada habis dari tadi.

Tiittt…. Tiittt….. gejessss… gejeesst…..

Suara peluit dan kereta mengagetkanku yang mulai mengantuk karena kekenyangan. Aku mengucek-ucek mataku, mengusir kantuk yang mulai tumbuh di pelopak mata. Mengerjap-ngerjap sesaat, hingga fokus kembali aku dapatkan.


Kereta Bogowonto jurusan Lempuyangan – Pasar Senen Jakarta, mulai menampakan batang hidungnya yang kehitaman. Menjerit-jerit riang memamerkan lengkingannya yang menyayat. Seperti diperintah dengan aba-aba suara peluit yang di tiup oleh penjaga peron. Badannya sambung-menyambung, mengular di atas bantalan rel. Berwarna kuning kusam bergantian dengan warna putih yang belepotan, menandakan gerbong yang telah cukup dimakan usia dan perlu untuk dicat ulang.


Kereta Bogowonto sebenarnya kereta yang yang dikelelola oleh Daerah Operasi V Purwokerto meskipun diperpanjang rutenya sampai Yogyakarta. Dengan demikian, kereta api ini tetap menjadi andalan penumpang untuk pergi atau pulang dari daerah V Purwokerto. Nama Bogowonto diambilkan dari nama sungai Bogowonto yang melintas di wilayah Kedu, Jawa Tengah. Kereta api ini merupakan kereta ekonomi AC pertama di Indonesia. Selain itu, kereta yang awalnya hanya diberangkatkan dari Kutoarjo pada malam hari ini menggunakan iring-iringan gerbong buatan dalam negeri; PT INKA.


Aku melangkah, menarik koperku perlahan sambil menenteng bungkusan kresek berisikan pecel yang aku pesan tadi. Menarik koper merk Polo ukuran sedang dengan warna abu-abu, koper oleh-oleh dari istriku yang pulang dari Batam.


“Mas, tak belikan koper buat pergi-pergi. Mumpung murah, harganya Cuma 50 ribu. Kalau di Jogja, harganya 100 ribu lebih lho.” Istriku tersenyum sambil menyodorkan sebuah koper yang masih terbungkus plastik.


Aku tersenyum membayangkan istriku yang selalu baik terhadapku. Selalu memperhatikan apa yang aku butuhkan, menemaniku dalam suka dan duka. Menerima aku apa adanya, dalam rupa yang tak sempurna hingga dompet yang terlalu sering tipis dibandingkan berisi lembaran rupiah.


Istriku seorang wanita tegar berdarah bugis. Berwajah cantik dengan hidung mancung dan alis yang menyabit, menyambung. Matanya teduh dan tajam seperti mata elang. Bentuk mukanya oval dengan dagu lancip menawan. Aku paling suka bila melihatnya sedang tersenyum atau tertawa, ada lesung pipit kecil yang bersemi di pipinya; manis sekali.


Tingginya 163 cm dengan tubuh yang ramping, tidak gemuk dan juga tidak kurus, pas menurutku. Rambut indahnya hanya aku yang tahu, karena ia selalu menutupinya dengan lembaran hijab yang selalu ia kenakan. Hingga ia mengidolakan sosok Oki Setiana Dewi untuk dijadikan motifator dalam hidupnya. Buktinya, ia selalu memasang gambar-gambar Oki dalam desktop background laptopnya, dalam telpon genggamnya hingga setia menjadi follower di akun twiter dan facebooknya. Lebih lagi, blognya sering ia posting dengan ulasan kekagumannya kepada sosok idolanya ini. Dan jangan salah, setiap hari ia pasti buka website dari sosok Oki Setiana Dewi.


***

Aku mulai menyeka keringat yang mulai basah dikeningku. Mengambil sapu tangan dari saku belakang celana jeans, dan mengelap mukaku perlahan. Pandanganku mengitari gerbong a02 yang aku tumpangi, memandang isinya yang cukup sesak dan membuat suasana gerah. Bau keringat mulai merebak, bercampur dengan aroma lontong opor, deadoran, parfum, bedak bayi, minyak kayu putih hingga kaos kaki. Rengekan anak kecil yang kepanasan dibalas dengan kesetiaan ibunya yang mengipas-ngipaskan selembar kertas ke arah mukanya. Aku menengok jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, pukul 09.58. Tidak terasa sudah 2 jam 23 menit terhitung dari jam berangkat pukul 07.35 dari stasiun Lempuyangan. Kereta kelas ekonomi yang ber AC tapi mati ini melaju dengan kecepatan rendah. Merelakan waktu untuk kereta yang lebih tinggi kelasnya; kelas bisnis dan eksekutif.


Tepat di sampingku duduk seorang Bapak-bapak yang sudah cukup umur. Kira-kira setengah abad, atau mungkin juga lebih. Wajahnya bulat, dengan kumis tebal menghiasi bawah hidungnya. Ia mengenakan kacamata. Bajunya kotak-kotak warna biru tua, dipadu dengan celana cotton warna hitam dan sepatu warna sepadan. Saat aku tanya, namanya adalah Pak Samsudin. Dan hampir benar tebakanku, umurnya 50 tahun kurang setahun. Ia hendak pergi ke Gombong untuk menghadiri pernikahan keponakannya. Sementara di depanku, duduk dua orang pemuda yang lebih asyik dengan ponsel dan mp3nya. Mereka hanya sekali tersenyum kepadaku, dan kembali menekuri genggamannya.


Aku lebih memilih menggunakan kereta kelas ekonomi dibandingkan dengan kelas di atasnya. Bukan karena aku tidak mampu untuk membeli tiketnya, tetapi karena dengan kereta ini aku lebih merasakan makna dari kehidupan ini. Aku bisa merasakan kehidupan kaum menengah ke bawah yang selalu penuh dengan rona warna. Melihat semangat mereka, rasa syukur dalam menjalani hidup yang indah ini. Seperti kegigihan mbok penjual nasi yang aku temui di stasiun pagi tadi. Melihat semangatnya, keikhlasannya dalam mengarungi aral dan rintangan hidup. Terkadang ada rasa iri yang muncul dalam relung hati, karena mereka tetap selalu tersenyum. Entah itu bahagia atau derita. Entah…..


Aku menikmati perjalanan ini tanpa mengeluh sedikitpun. Aku malu dengan mereka yang lebih sering merasakan kegetiran hidup di banding denganku sekarang. Aku juga menggunakan kereta kelas ekonomi ini agar aku tidak lupa akan diriku sebelumnya. Aku yang dulu sama dengan mereka, menjalani kehidupan dengan kerja keras menguatkan hati. Menjalani kehidupan dari dasar, dari kehidupan yang penuh dengan kesusahan. Melangkah berdampingan dengan istriku yang setia menemani hingga sekarang. Tidak akan pernah terlupa saat itu, 5 tahun silam.

Sakitnya, Tepat di Relung Hati





31 Desember 2009.

Hari yang tak terlupa, Kamis di penghujung tahun 2009. Ya, karena hari itu mengajarkanku akan banyak makna, tentang cinta, persahabatan dan hati.

Aku masih duduk di bangku putih abu-abu, dan saat itu aku duduk di kelas XII (Dua belas). Aku aktif di kegiatan ekstrakurikuler, dan yang paling aku gemari adalah seni musik. Saking cintanya dengan kegiatan ini, aku mempunyai sebuah grup band yang menjadi kebanggaan sekolah kami. Hampir semua alat musik bisa kumainkan, mulai dari gitar, piano, biola sampai drum. Tapi aku lebih suka menjadi vokal sambil memainkan gitar.

Kejuaraan demi kejuaraan yang kami raih baik tingkat antar kelas sampai antar sekolah semakin menaikdaunkan kami. Tentu saja kami menjadi primadona kaum perempuan di sekolah. Dan kabar yang membahagiakan mereka, aku belum juga mempunyai seorang pacar.

Banyak cewek-cewek di sekolah yang mengejarku dan memintaku untuk menjadi pacarnya. Tetapi aku tak pernah menghiraukan mereka. Karena sebenarnya aku mempunyai rasa pada seorang gadis manis adik kelasku. Namanya Nina. Ia gadis yang tidak aneh-aneh, cantik dan terkenal pintar. Ia sering tersenyum kepadaku, yang membuatku sering salah mengartikannya. Ada yang mendesir di dalam hati, jika mata ini melihat sosoknya. Aku suka melihatnya berjalan, membaca buku di perpustakaan. Aku suka menikmati sendau guraunya, menikmati tawanya. Aku suka melihatnya menyibakan rambut ke belakang, melihat ia tersenyum senang. Aku suka akan semua tentangnya. Hingga ada harapan dalam hati ini untuk bisa memiliki cintanya.

Aku berteman dekat dengan Nina, tapi tak pernah bisa mengatakan isi hati ini kepadanya. Aku lebih suka mengaguminya dengan caraku sendiri. Aku sering berdua dengannya di perpustakaan, di taman sekolah dan ruang seni. Aku sering menemaninya belajar, dan dia sering menemaniku bermain gitar atau piano. Aku suka mengiringinya bernyanyi, memadu suara kami dengan petikan gitar atau suara piano yang aku mainkan. Kami sering tertawa bersama, menyanyikan lagu yang sama.

Aku memang belum pernah pacaran sejauh ini. Belum pernah mengatakan rasa cinta kepada lawan jenis. Mungkin karena aku lebih asyik dengan duniaku sendiri. Atau mungkin karena aku tidak berani untuk menyatakan perasaan yang tumbuh di hati. Entah, yang jelas aku belum pernah merasakan yang namanya punya pacar dan pacaran.

Tak ada seorangpun yang mengetahui perasaanku kepada Nina. Bahkan teman-teman satu bandku. Aku lebih suka menikmati ini sendirian. Menikmati indahnya cinta yang merekah dihatiku. Dan aku menuangkannya dalam lirik-lirik lagu yang aku cipta. Aku menikmati benih-benih cinta ini bersama petikan gitar dan denting-denting piano. Mengolahnya menjadi melodi dan harmoni, menjadi lagu yang sering kami nyanyikan ketika kami konser di sekolah.

Hingga suatu hari, Andra teman sekelas sekaligus drummer bandku mengatakan hal yang meruntuhkan duniaku. Ia mencintai lentera hati yang mulai aku jaga. Ya, ia bercerita kepadaku kalau dia suka kepada Nina. Andra bercerita kepadaku tentang perasaannya kepada Nina, tentang malam-malamnya yang selalu memikirkan Nina.

Aku tahu, apa yang aku rasakan dan aku kagumi tentang Nina, sama dengan yang Andra rasakan. Aku mencoba tersenyum menanggapi cerita-cerita Andra tentang Nina. Aku mencoba untuk tidak cemburu dan menyimpan rapat perasaan ini. Andra yang mengetahui kalau aku cukup dekat dengan Nina, meminta diriku untuk sedikit menolongnya. Menyampaikan salam kepadanya, hingga memintaku menyampaikan isi dari hatinya.

Andai dia menjadi diriku, entah apa yang akan ia lakukan dengan semua ini. Ada rasa ngilu yang mulai angkat senjata pada relung-relung hati. Aku bingung dengan semuanya, memilih sahabat atau cinta yang mulai tumbuh bersemi. Sudah tiga kali Andra menanyakan apakah aku sudah menyampaikan isi hatinya kepada Nina. Aku tersenyum, memintanya bersabar dan menunggu pada moment yang tepat.

Malam di penghujung 2009, bandku mendapatkan tawaran untuk ikut memeriahkan pergantian tahun baru di alun-alun. Dan kami sepakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Di sekolah, kami mulai mempersiapkan keperluan untuk mengisi pergantian tahun baru tersebut. Mulai dari memilih lagu yang akan kami tampilkan, hingga gladi bersih. Setelah selesai semua persiapan, aku melangkah menuju perpustakaan sekolah. Bermaksud menemui Nina yang sedang asyik bergumul dengan buku-buku pelajaran.

Aku mengajak Nina untuk ikut dalam acara nanti malam. Dan tanpa banyak bertanya, ia menyanggupi ajakanku. Pukul sembilan malam aku jemput ia di rumah. Aku terlebih dahulu meminta ijin kepada orangtua Nina untuk mengajak Nina pergi hingga larut malam. Setelah bernegosiasi dengan orangtua Nina, kami sepakat agar Nina langsung pulang jika acara sudah selesai. Kami kemudian langsung menuju sekolah untuk mengambil beberapa perlengkapan yang masih tertinggal di sana. Kami berboncengan sambil membawa gitar menuju alun-alun yang sudah mulai ramai dikunjungi orang-orang.

Pukul sebelas malam band kami baru mendapat jatah manggung. Kami harus membawakan sedikitnya 10 lagu hingga tepat di pergantian malam tahun baru. Pukul 23.59 kami mulai berhitung bersama. Suara gemuruh koor menghitung mundur dari detik 60 hingga tepat di detik pergantian tahun baru membuatku merinding. Tepat pukul 00.00, kami berteriak bersama. Ucapan selamat tahun baru berirama dengan kembangapi yang meluncur ke angkasa. Meriah dan ramai sekali. Tepuktangan bergemuruh, disambut dengan tawa kebahagiaan dan teriakan-teriakan yang penuh semangat. “Selamat tahun baru 2010”.

Aku melirik Nina yang tertawa bahagia menikmati pergantian tahun baru ini. Aku mendekati Andra yang masih duduk di belakang drum, menyuruhnya agar menyampaikan isi hatinya kepada Nina. “Ini adalah waktu yang tepat untuk menyatakan cinta”, bisikku kepada Andra. Aku menariknya berdiri, mengambil stik yang masih tergenggam di tangannya. Menyuruh Andra turun dari panggung dan menghampiri Nina yang masih asyik melihat kilat-kilat kembangapi.

Aku mulai menekan tut-tut piano. Menyanyikan lagu tentang cinta. Aku sendiri memainkan lagu ini, karena lagu ini hanya aku dan Nina yang tahu. Gempita teriakan dan tawa perlahan mulai berhenti, seakan ikut meresapi isi hatiku yang terluka. Para penonton berdesak-desakan kembali mendekati panggung. Seseorang menyalakan korek dan melambai lambaikan tangannya, dan diikuti oleh beberapa orang disekitarnya. Nyala api-api kecil membuat suasana hatiku kian biru, tanpa terasa ada basah yang mengalir di pipi. Suaraku mulai bergetar, tapi aku mencoba untuk tetap mengontrolnya.

Bersama lagu yang aku nyanyikan, Andra mendekati Nina yang mulai mengarahkan pandangannya kembali ke panggung. Andra menyatakan perasaan hatinya kepada Nina beriring tut-tut piano yang aku tekan merdu. Hatiku perih, ngilu dan sakit sekali. Aku harus merelakan lentera hatiku untuk disulut oleh orang lain, sahabat karibku sendiri. Di penghujung tahun 2009, bersama dengan nyala api-api kecil, bersama denting piano yang mengalun, aku bernyanyi merelakan lentera cintaku disulut oleh sahabatku. Aku mengiringinya dengan perih, dengan luka, dan dengan airmata. Sakitnya, tepat di relung hati.



Kiat-kiat Move On


Galau, sakit hati yang katanya tepat di sini (sambil tepuk-tepuk dada), jangan terlarut-larut ya. Nggak baik banget. Pengen cepet move on, nih ada tips gratisnya. Mau tahu?

1. Jangan anggap duniamu berakhir dengan putusnya cinta kamu, masih banyak di luar sana yang jauh lebih baik dari si dia. Cari lagi, berburu lagi. Ingaaat, yang paling menegangkan adalah ketika kita menyatakan cinta. Menunggu diterima atau ditolak. Kalau ditolak, ya cari lagi.

2. Susah nglupain, wajar. Cari aktifitas yang membuatmu sibuk dan tidak terpikirkan dia. Olahraga atau musik, kegiatan recommended untuk lupain dia.

3. Rejeki tidak ada yang tertukar, camkan itu. Pacar termasuk rejeki loh. Jadi kalau dia belum bisa menjadi milikmu, berarti dia bukan rejekimu. Tapi jika dia memang rejekimu, mau ditembak oleh puluhan orang, digebet sama sahabat sendiri, dia tetap akan menjadi milikmu. Jodoh tak kemana kok.

4. Contoh cowboy, yang tidak akan berhenti membidik jika tidak kena sasaran. Jadi jika cinta masih ditolak, atau putus dengan si dia, cari lagi hingga tepat di sasaran. Tepat di hati, tepat di saku. Hahaha… LOL.

Semoga bermanfaat ya, biar cepat bisa Move on. Ta…..ta..










#Terbit dibuletin Gelaran

Saturday, 22 November 2014

Part III

Bintang itu berkerling pada kegelapan malam yang membisu. Seakan ia tersenyum dan berkata sanggup pada diriku. Bersemi,merasuk malam, tak diam dan temaram. Lirih ia mendekati aku. Memanggilku.... Kubisikkan suara rintihan harapanku pada dirinya.

Wahai bintang bijakku
Sampaikan rasa rinduku pada bidadari cintaku
Kan ku simpan ia dalam dadaku
Agar tak luluh ia
Dalam pagi yang hening
Betapa indah awal sebuah petaka
Tatkala cinta dan luka tak lagi punya batas
Dan sepercik nilai seketika hilang makna
Tidaklah menolong air mata yang terurai sedih
Atau......
Senandung awan putih yang terhentak
Hingga senja tak lebih dari penyambut petang
Pelajaranmu membuat aku terpana
Namun pada akhir adalah tiada
Dan tiba-tiba aku takut rindu
Kupejamkan mata
Mencoba untuk sandarkan rindu dalam tidurku
Bermimpi.....
Tapi apalah arti semua mimpi itu
Ketika lelap berteriak pada malam-malam tanpa suara
Kucari hadirnya lepas fajar hingga petang
Tersendat.....
Tergeragap laksana petir tanpa gelegar
Sementara waktu membenamkan segala harapan
Dunia seperti kapal karam
Terjerembab pada kedalaman tanpa batas
Tiada yang lebih pasti dari pada gelap
Sehingga bulan kehilangan cahayanya
Dan haalilintar kehilangan kilatnya
Adakah yang lebih berduka selain hati yang merindu
Betapa ingin ku lihat indahnya
Kubalas senyumnya
Pada kesia-siaan yang akrab denganku kini......

Bintang berkerlip lagi seakan mengerti akan kerinduanku pada dirinya. Berikan cahayanya untuk terangi hati yang tertawan gelap dan hampa. Hapuskan sepi dalam kesendirian, tebuskan indah dalam putih kilaunya. Berkata dalam diam ia berjanji.

" akan aku sampaikan pada dirinya tentang kerinduanmu yang selama ini tersimpan indah dan pedih dalam hidupmu. Akan aku sampaikan rasa cintamu yang tulus pada dirinya, agar ia mengerti bahwa ia adalah bidadari pujaanmu. Aku akan sampaikan itu semua pada dirinya. "

Aku tersenyum melihatnya. Tapi ia harus pergi meninggalkanku untuk sementara karena fajar telah menghantarkannya pulang.Tinggalkan gelap malam yang berganti warna jingga sang surya.

Part II

Rintihan itu hadir kembali dalam mimpiku ketika aku merasa begitu hampa. Terdengar sayup-sayup dan sangat jauh. Ada asa dalam jiwaku untuk mengejarnya. Saat aku beranjak, kegelapan telah datang kembali seakan menjadi duri penghalang yang memaksaku untuk tetap diam. Mengurung dan menyiksaku dalam ketidak berdayaan. Dan kehangatannya membawa aku kembali dalam dunia maya. Tapi rintihan itu masih terdengar mengalun lemah. Memanggilku untuk kembali.
Aku berusaha untuk singkapkan kehangatan semu itu karena hati kecilku telah berbisik agar aku kembali.
" Kembalilah, karena rintihan itu adalah dirimu yang sejati. "
Tanpa peduli aku singkirkan dan aku buang selimut kelam yang selama ini menghantuiku dalam ketakutan. Ku terobos duri penghalang dan tak ku hiraukan rasa perih tersayat. Aku berlari dengan seribu sesalku. Tanpa peduli atas luka dan duka yang ada.
Aku tejatuh ketika ku terbangun lari. Ku coba untuk berdiri dan berlari lagi. Tanpa putus asa ku kejar dirinya. Ini adalah perjuangan diantara hidup dan mati. Hidup untuk kembali atau mati dalam kegelapan dan kebinasaan.


Pada akhir yang panjang ku dapat meraih dan menyentuhnya. Saat ku gapai jemarinya, aku merasakan ketenangan dan kedamaian yang sangat aku rindukan. Aku bersandar dalam peluknya. Aku merasakan kehangatan cinta yang seungguhnya. Inilah hidup yang selama ini aku impikan. Mimpi yang telah menjadi kenyataan.  Aku telah kembali. Kembali menjadi aku yang dahulu.

Saat ku buka mata, ia telah pergi dari sisiku.Tak ada dan tak ku temukan dirinya. Ada sesal dalam benakku karena ku belum ucapkan terima kasih padanya. Ku hanya bisa berharap, suatu saat aku dapat berjumpa dengan dirinya. Tuk ucapkan seribu terima kasih, walau semua itu tak dapat menebus kebaikannya. Tapi hanya itu yang dapat aku lakukan. Karena pinta ini tulus dari hatiku yang paling dalam.

Saat matahari mulai tenggelam, kita dapat melihat keindahan yang ia ciptakan. Kemunduran bukan berarti kehancuran. Dengan sinarnya, kita dapat melihat keindahan ufuk senja yang tersenyum dalam balutan warna jingga. Ketika gelap mulai datang, berjuta bintang menghiasi malam yang kelam. Tersenyum pada dunia yang bermimpi untuk dapat memetiknya.
Ku panggil bintang dan inginku ceritakan kebahagiaan merindu pada dirinya. Ku berteriak serak dalam lisan berkata tanpasuara.

Dengarkanlah kau bintang
Disini aku merindukan dirinya
Tuk terangi indah dalam gelapku
Usirkan luka pergi dari jiwaku
Dengarkanlah kau bintang
Disini ku memintamu
Ijinkanku pinjam bias-bias cinta dari sinarmu
Untuk menjadi mimpi indah dalam tidurnya
Dengarkanlah kau bintang
Disini kasih pernah berbunga tiada harum tiada warna
Disini cinta pernah membara tanpa dahan dan tanpa apinya
Diantara kau dan aku tiada saling berucap kata
Kau tersenyum wajah, tubuh, mata
Semuanya putih
Membasuh dan menyejukkan jiwa yang merindukannya
Dengarkanlah kau bintang
Aku ingin katakan padanya
Betapa rindu hati untuk dapat melihat senyumnya
Sampaikan lagu cinta untuknya
Menemani malam-malam sepinya
Memberikan nuansa indah dalam sinarmu
Hapuskan air mata
Hilangkan sedih dan lukanya
Dengarkanlah kau bintang
Bahwa aku selalu bermimpi untuk selalu bersamanya
Bermimpi untuk memetik indahnya
Merangkainya,menguntainya
Menjadikan cinta dalam hidupku
Menjadikan hidup dalam kasihku
Dengarkanlah kau bintang
Ijinkan aku untuk selalu bersamamu
Bersandar dalam cahayamu
Rebahkan jiwa yang lelah dalam belaianmu
Dengarkanlah kau bintang
Bahwa ia adalah bintang hati yang membawa seribu pesona
Tebuskan dahaga
Hilangkan duka
Balutkan cinta
Tunjukkan lukisan malam dalam sinarmu
Dalam sinar agungmu
Memberikan harapan cinta dalam hidupku
Dengarkanlah kau bintang
Aku merindukan dirinya
Aku membutuhkan dirinya
Dan aku sangat mencintainya
Dengarkanlah kau bintang
Dengarkanlah..........

Part I

Saat sepi menghiasi hati, berjuta sedih dan sesal mengukir dengan pahat-pahat kenistaan. Memberikan goresan-goresan  pedih pada hati yang terluka. Air mata ikut bersaksi dengan berurai dan ratapanpun menghiasi. Semua telah mengubur jiwa dengan lumpur keputus asaan. Menyeret dan memaksa untuk tenggelam dalam kegelapan dan kebinasaan. Membuat aku merasa bukanlah diriku. Seakan cinta yang aku punya bukanlah cinta yang aku miliki.
Kegelapan yang datang. Akupun tak tahu darimana, tiba-tiba dia ada. Membungkam jiwa yang berteriak ingin kembali. Dan kudengar rintihan yang jauh.
" Kembali.... Kembalilah....! "
Namun tidurku tak terbangunkan olehnya. Karena kegelapan itu telah menjadikan selimut dalam tidurku. Aku merasakan kehangatan yang hampa dan sulit aku singkapkan. Sedih dan luka yang aku punya telah menjadi mimpi-mimpi indahku. Aku terlarut.

Detik demi detik telah berjalan meninggalkan waktu yang telah terlewati. Pergi nan jauh dan tak pernah untuk kembali. Namun aku masih menikmati tidurku dalam kegelapan itu. Kehangatan hampa yang aku rasakan semakin membuatku tenggelam. Tak terdengar lagi rintihan mereka. Tak kulihat lagi senyum mereka. Senyum yang tulus, yang selalu memintaku untuk kembali. Kini aku telah buta dan tuli. Buta dalam menentukan jalan yang harus aku lalui dan tuli dari segala pinta yang memintaku untuk kembali. Kembali untuk menjadi aku yang dahulu.

Entah mengapa rintihan itu terdengar lagi dalam mimpiku. Ia hadir lagi meminta.
" Kembali.... Kembalilah...! "
Namun ketika aku ingin memanggilnya, kegelapan telah ada di depanku. Membawa aku tenggelam lagi. Terlarut dalam kehampaan Yang terasa indah dalam derita. Mengusir rintihan itu yang setapak demi setapak meninggalkan aku yang terlarut dalam mimpi dan terbalut oleh luka.