Sunday, 23 November 2014

Tentang Penulis

Nuansa Embun Senja, lelaki sederhana yang tinggal di Magelang, Jawa Tengah. Saat ini masih duduk di bangku kuliah dengan Jurusan Teknik Informatika.
Penulis dapat dihubungi melalui:

Facebook : https://www.facebook.com/yudhiemelangkahlagi
Tweter      : https://twitter.com/Embun_Se

Welcome

Selamat Datang di Dunia Nuansa Embun Senja

Selamat berselancar, menyelami berbagai pengetahuan.

Saturday, 22 November 2014

Part III

Bintang itu berkerling pada kegelapan malam yang membisu. Seakan ia tersenyum dan berkata sanggup pada diriku. Bersemi,merasuk malam, tak diam dan temaram. Lirih ia mendekati aku. Memanggilku.... Kubisikkan suara rintihan harapanku pada dirinya.

Wahai bintang bijakku
Sampaikan rasa rinduku pada bidadari cintaku
Kan ku simpan ia dalam dadaku
Agar tak luluh ia
Dalam pagi yang hening
Betapa indah awal sebuah petaka
Tatkala cinta dan luka tak lagi punya batas
Dan sepercik nilai seketika hilang makna
Tidaklah menolong air mata yang terurai sedih
Atau......
Senandung awan putih yang terhentak
Hingga senja tak lebih dari penyambut petang
Pelajaranmu membuat aku terpana
Namun pada akhir adalah tiada
Dan tiba-tiba aku takut rindu
Kupejamkan mata
Mencoba untuk sandarkan rindu dalam tidurku
Bermimpi.....
Tapi apalah arti semua mimpi itu
Ketika lelap berteriak pada malam-malam tanpa suara
Kucari hadirnya lepas fajar hingga petang
Tersendat.....
Tergeragap laksana petir tanpa gelegar
Sementara waktu membenamkan segala harapan
Dunia seperti kapal karam
Terjerembab pada kedalaman tanpa batas
Tiada yang lebih pasti dari pada gelap
Sehingga bulan kehilangan cahayanya
Dan haalilintar kehilangan kilatnya
Adakah yang lebih berduka selain hati yang merindu
Betapa ingin ku lihat indahnya
Kubalas senyumnya
Pada kesia-siaan yang akrab denganku kini......

Bintang berkerlip lagi seakan mengerti akan kerinduanku pada dirinya. Berikan cahayanya untuk terangi hati yang tertawan gelap dan hampa. Hapuskan sepi dalam kesendirian, tebuskan indah dalam putih kilaunya. Berkata dalam diam ia berjanji.

" akan aku sampaikan pada dirinya tentang kerinduanmu yang selama ini tersimpan indah dan pedih dalam hidupmu. Akan aku sampaikan rasa cintamu yang tulus pada dirinya, agar ia mengerti bahwa ia adalah bidadari pujaanmu. Aku akan sampaikan itu semua pada dirinya. "

Aku tersenyum melihatnya. Tapi ia harus pergi meninggalkanku untuk sementara karena fajar telah menghantarkannya pulang.Tinggalkan gelap malam yang berganti warna jingga sang surya.

Part II

Rintihan itu hadir kembali dalam mimpiku ketika aku merasa begitu hampa. Terdengar sayup-sayup dan sangat jauh. Ada asa dalam jiwaku untuk mengejarnya. Saat aku beranjak, kegelapan telah datang kembali seakan menjadi duri penghalang yang memaksaku untuk tetap diam. Mengurung dan menyiksaku dalam ketidak berdayaan. Dan kehangatannya membawa aku kembali dalam dunia maya. Tapi rintihan itu masih terdengar mengalun lemah. Memanggilku untuk kembali.
Aku berusaha untuk singkapkan kehangatan semu itu karena hati kecilku telah berbisik agar aku kembali.
" Kembalilah, karena rintihan itu adalah dirimu yang sejati. "
Tanpa peduli aku singkirkan dan aku buang selimut kelam yang selama ini menghantuiku dalam ketakutan. Ku terobos duri penghalang dan tak ku hiraukan rasa perih tersayat. Aku berlari dengan seribu sesalku. Tanpa peduli atas luka dan duka yang ada.
Aku tejatuh ketika ku terbangun lari. Ku coba untuk berdiri dan berlari lagi. Tanpa putus asa ku kejar dirinya. Ini adalah perjuangan diantara hidup dan mati. Hidup untuk kembali atau mati dalam kegelapan dan kebinasaan.


Pada akhir yang panjang ku dapat meraih dan menyentuhnya. Saat ku gapai jemarinya, aku merasakan ketenangan dan kedamaian yang sangat aku rindukan. Aku bersandar dalam peluknya. Aku merasakan kehangatan cinta yang seungguhnya. Inilah hidup yang selama ini aku impikan. Mimpi yang telah menjadi kenyataan.  Aku telah kembali. Kembali menjadi aku yang dahulu.

Saat ku buka mata, ia telah pergi dari sisiku.Tak ada dan tak ku temukan dirinya. Ada sesal dalam benakku karena ku belum ucapkan terima kasih padanya. Ku hanya bisa berharap, suatu saat aku dapat berjumpa dengan dirinya. Tuk ucapkan seribu terima kasih, walau semua itu tak dapat menebus kebaikannya. Tapi hanya itu yang dapat aku lakukan. Karena pinta ini tulus dari hatiku yang paling dalam.

Saat matahari mulai tenggelam, kita dapat melihat keindahan yang ia ciptakan. Kemunduran bukan berarti kehancuran. Dengan sinarnya, kita dapat melihat keindahan ufuk senja yang tersenyum dalam balutan warna jingga. Ketika gelap mulai datang, berjuta bintang menghiasi malam yang kelam. Tersenyum pada dunia yang bermimpi untuk dapat memetiknya.
Ku panggil bintang dan inginku ceritakan kebahagiaan merindu pada dirinya. Ku berteriak serak dalam lisan berkata tanpasuara.

Dengarkanlah kau bintang
Disini aku merindukan dirinya
Tuk terangi indah dalam gelapku
Usirkan luka pergi dari jiwaku
Dengarkanlah kau bintang
Disini ku memintamu
Ijinkanku pinjam bias-bias cinta dari sinarmu
Untuk menjadi mimpi indah dalam tidurnya
Dengarkanlah kau bintang
Disini kasih pernah berbunga tiada harum tiada warna
Disini cinta pernah membara tanpa dahan dan tanpa apinya
Diantara kau dan aku tiada saling berucap kata
Kau tersenyum wajah, tubuh, mata
Semuanya putih
Membasuh dan menyejukkan jiwa yang merindukannya
Dengarkanlah kau bintang
Aku ingin katakan padanya
Betapa rindu hati untuk dapat melihat senyumnya
Sampaikan lagu cinta untuknya
Menemani malam-malam sepinya
Memberikan nuansa indah dalam sinarmu
Hapuskan air mata
Hilangkan sedih dan lukanya
Dengarkanlah kau bintang
Bahwa aku selalu bermimpi untuk selalu bersamanya
Bermimpi untuk memetik indahnya
Merangkainya,menguntainya
Menjadikan cinta dalam hidupku
Menjadikan hidup dalam kasihku
Dengarkanlah kau bintang
Ijinkan aku untuk selalu bersamamu
Bersandar dalam cahayamu
Rebahkan jiwa yang lelah dalam belaianmu
Dengarkanlah kau bintang
Bahwa ia adalah bintang hati yang membawa seribu pesona
Tebuskan dahaga
Hilangkan duka
Balutkan cinta
Tunjukkan lukisan malam dalam sinarmu
Dalam sinar agungmu
Memberikan harapan cinta dalam hidupku
Dengarkanlah kau bintang
Aku merindukan dirinya
Aku membutuhkan dirinya
Dan aku sangat mencintainya
Dengarkanlah kau bintang
Dengarkanlah..........

Part I

Saat sepi menghiasi hati, berjuta sedih dan sesal mengukir dengan pahat-pahat kenistaan. Memberikan goresan-goresan  pedih pada hati yang terluka. Air mata ikut bersaksi dengan berurai dan ratapanpun menghiasi. Semua telah mengubur jiwa dengan lumpur keputus asaan. Menyeret dan memaksa untuk tenggelam dalam kegelapan dan kebinasaan. Membuat aku merasa bukanlah diriku. Seakan cinta yang aku punya bukanlah cinta yang aku miliki.
Kegelapan yang datang. Akupun tak tahu darimana, tiba-tiba dia ada. Membungkam jiwa yang berteriak ingin kembali. Dan kudengar rintihan yang jauh.
" Kembali.... Kembalilah....! "
Namun tidurku tak terbangunkan olehnya. Karena kegelapan itu telah menjadikan selimut dalam tidurku. Aku merasakan kehangatan yang hampa dan sulit aku singkapkan. Sedih dan luka yang aku punya telah menjadi mimpi-mimpi indahku. Aku terlarut.

Detik demi detik telah berjalan meninggalkan waktu yang telah terlewati. Pergi nan jauh dan tak pernah untuk kembali. Namun aku masih menikmati tidurku dalam kegelapan itu. Kehangatan hampa yang aku rasakan semakin membuatku tenggelam. Tak terdengar lagi rintihan mereka. Tak kulihat lagi senyum mereka. Senyum yang tulus, yang selalu memintaku untuk kembali. Kini aku telah buta dan tuli. Buta dalam menentukan jalan yang harus aku lalui dan tuli dari segala pinta yang memintaku untuk kembali. Kembali untuk menjadi aku yang dahulu.

Entah mengapa rintihan itu terdengar lagi dalam mimpiku. Ia hadir lagi meminta.
" Kembali.... Kembalilah...! "
Namun ketika aku ingin memanggilnya, kegelapan telah ada di depanku. Membawa aku tenggelam lagi. Terlarut dalam kehampaan Yang terasa indah dalam derita. Mengusir rintihan itu yang setapak demi setapak meninggalkan aku yang terlarut dalam mimpi dan terbalut oleh luka.

Noda

putih
cinta ini putih bagai kapas kapas yang bergantung di langit.
indah
cinta itu indah bagai bias bias warna sempurna dalam cakrawala
.

tapi,putih itu
telah kau beri noda dalam rona yang temaram gelisah
tapi,indah itu
telah kau rubah menjadi percikan dosa yang membasahi hati terluka

noda
kau tak pernah hilang memberikan hampa yang membekas
hingga putih cinta ini tak pernah kembali tertutup derita warna dalam angkuhmu.
putih yang mati, yang akan selalu membenci noda.
mungkin selamanya...
?

magelang, maret 12

Kumala

tawa seruling safir mendayu diantara rintihan ranting ranting patah. menyeruak dan teriak dalam gempita nuansa tanpa suara. melolong sayu menekuri duri luka yang menancak pedih. ah, engkau terlalu berlebihan Kumala. senja ini indah, sangat indah. lihatlah cakrawala jingga yang melukiskan rona warna. lihatlah bias bias anggun berganti, menapaki lekuk lekuk ungu semburat. itu benar benar indah, mesti hanya sekejap.

Kumala tersenyum dalam kidung lembayung merekah. seruling safir melengking terpesona dengan keteguhan senja. iapun bergeming, mengikuti batas cakrawala yang tersenyum menyambut petang. merubah suasana kelam temaram menjadi rekah bahagia sempurna. ranting ranting patah itupun tersenyum tanpa luka.
ah, engkau Kumala.

magelang, 8 Maret 12

Lentera Asap

Sepi ini semakin menyudutkan ku dalam lentera yang meredup perlahan. Gelap menghantui hati yang terisi penuh akan asap-asap putus asa. Semakin membuatnya sesak dan menjadikannya terbang. Terbang bersama lentera yang mati.

Mungkin itu yang dirasakan oleh wanita paruh baya yang menangis di bawah rembulan. Mengais rasa peduli di sela-sela gelimpungan pedar yang kian surut perlahan. Rintih sendu keluar dari bibir yang rindu akan basah. Mengalunkan keluh derita yang mengisi penuh dadanya.
"Kenapa engkau begitu tega Mas, menelantarkan dan menyia-nyiakan aku. Setelah engkau lunturkan keteguhan cinta ini untukmu. Hingga tiada sisa cinta ini untuk orang lain."

Pagi, di Rumah Kami

Pagi ini, embun di ruam-ruam pucuk cemara yang mulai tanggalkan gigilnya, menekuri ranum bersama semburat mentari yang mulai merekah. Hangat membalut bening yang mulai menguap dalam asap, menyatu dalam udara. Kembali dalam siklus yang berlanjut terus menerus. Hingga suatu masa, ketika sang Maha Bijaksana menghentikan alur mayapada. Menghiasi semesta dalam temaram yang berdiri angkuh bak tebing-tebing perkasa. Luruh dalam rapuh, harapkan kebaikan yang akan menolong setiap insan. Dalam setiap benih yang disemai, dalam setiap perbuatan yang dilakukan.
          Aku masih bersahabat dengan embun, meski pagi ini ia pulang lebih cepat dari biasanya. Kupandangi lekuk molek tubuh Tidar, selalu mempesona dan membuatku kian jatuh hati padanya. Tinggi dahan pinus dan rimbunnya petak salak, selalu membuatku betah untuk bermanja kepadanya. Ah, Tidar memang begitu. Selalu begitu.
          Aku duduk di bawah pohon pinus, menyaksikan lalu lalang orang yang mulai menapaki tubuh kekasihku. Aku tahu, mereka mempunyai niat yang baik pergi ke puncak sana. Merapalkan doa-doa kepada Sang Pencipta, mendoakan kebaikan kepada Syaikh Subakir; penakluk Paku Tanah Jawa. Seketika kulihat, sekelompok muda-mudi yang mulai menapakan kaki di gerbang baru yang tercipta dari jebolan tembok pagar Tidar, melangkah dalam kobaran semangat. Ada tujuh orang yang semuanya menggendong tas besar yang entah apa isinya. Mereka asyik bercakap, tanpa memperhatikan aku yang sedang duduk di dekatnya. Hanya beberapa dari mereka yang menatapku, tetapi mereka tiada peduli kepadaku. Apalagi peduli, senyum pun mereka enggan.
          Mereka mulai mendaki, dan semakin dekat denganku yang masih asyik duduk sendiri. Kuperhatikan lebih seksama, ternyata mereka di dampingi oleh orang yang lebih tua. Orang tua itu mengenakan pakaian Jawa, lengkap dengan blangkon. Aku jadi teringat Damarwulan yang pernah tampil dalam upacara bendera 17 Agustus di puncak gunung ini. Mereka terlihat sama, tampan dan anggun sekali. Aku sampai kagum melihatnya. Orang tua yang berjiwa muda. Sementara enam yang lainnya, mereka masih sangat muda. Lelaki agak gendut dengan jaket abu-abu, lelaki kurus dengan kaos hitam, lelaki dengan jaket hitam dan tas coklat, wanita berkerudung kuning, berkerudung hitam, berkerudung coklat; mereka berjalan beriringan di dampingi oleh sang Damarwulan.
          Mereka berjalan tepat di depanku, tetapi mereka tiada menyapa. Malah sebagian dari mereka menjauhiku. Aku masih tetap tidak bergeming, menatap mereka yang menatapku tak peduli. Aku berharap salah satu dari mereka akan mengulurkan sesuatu kepadaku, ternyata tidak. Mereka sombong sekali. Tiada peduli dengan aku dan kami.

          Aku sadar diri, aku hanya seekor monyet di pelataran Gunung Tidar. Tetapi setidaknya mereka peduli kepada kami. Kami mengharapkan makanan yang mereka ulurkan. Peduli kepada kami untuk tetap lestari di Tidar ini

Pesan Basah; Sepasang Pipit

Pagi tadi, kisah ketika asa menemani langkah basah, mengaburkan bayang morgana akan derau risalah. Tentang sepasang pipit yang mengais sisa padi, berdua dalam lapar dan dahaga. Mereka terlihat tegar dalam kepakan, bercericit riang bersahutan. Mereka hadir mensyukuri pagi yang masih datang, menafkahi segelintir pinta mereka. Ah, betapa bahagianya mereka dalam kesederhanaan. Betapa tegarnya mereka akan memaknai kehidupan. Sepasang pipit yang menjadi guruku di pagi ini.

Pikiran ini terbang untuk pulang dan hinggap pada sosok belahan jiwaku. Seorang istri shalehah yang selalu ada untukku. Betapa bersyukurnya hati ini memilikinya, harta yang paling berharga. Ada janji yang terikat, bahwa aku akan selalu menjaganya dalam hidup hingga matiku. Setia menemaninya dalam gelap, remang temaram dan terang benderang.

Engkau tak akan pernah terganti untuk selamanya.
Kita selamanya.

Pipit jiwaku_
Putri An-Nissa Nailathul Izzah.